Jumat, 30 November 2018

In Memoriam Dr. (HC) A.M. Fatwa (Alm), yang Saya Kenal


 Oleh: Wawan Ridwan, M.Pd.


 Kita patut  bangga bahwa salah satu Pendiri Yayasan PKP (almarhum Dr. (HC) A.M. Fatwa) adalah tokoh nasional yang sampai akhir hayatnya tetap konsisten dalam menegakkan amar ma ruf nahi munkar dengan gaya dan pendekatan yang tentu berbeda – beda diantara para pendiri PKP. Saya pribadi mengenal almarhum ketika pertama kali berjumpa pada akhir tahun 1996 di kantor Komnas HAM Jl. Latuharhary. Menteng. Sebagai anak muda, tentu sebuah kebanggaan bisa mengenal seorang tokoh nasional yang terkenal dengan kasus Petisi 50 dan Peristiwa Tanjung Priok, peristiwa politik yang mengakibatkan beliau mendekam di penjara lebih dari 10 tahun.
Dari pertemuan dan diskusi dengan almarhumlah saya diminta untuk aktif di Yayasan Pondok Karya Pembangunan, yang saat itu almarhum aktif menjadi ketua harian. Gaya kepemimpinan almarhum yang tegas dan visi almarhum bahwa PKP adalah hasil monumental MTQ yang harus memberikan manfaat yang besar bagi umat Islam. Almarhum ingin PKP sebagai sebuah lembaga memiliki nuansa seperti pondok pesantren pada umumnya. Untuk itu, almarhum membentuk unit kepesantrenan yang dipimpin oleh almarhum A. Yani Wahid, aktifis Islam dan teman semasa di penjara. Almarhum bahkan  mengajak almarhum  H. Ali Sadikin untuk aktif dan memperhatikan PKP yang beliau sendiri sudah lupa akan keberadaan PKP.  Bahkan wasiat almarhumah Hj. Nani Sadikin yang ingin mendirikan masjid juga diingatkan kembali oleh almarhum kepada Ali H. Sadikin. Dan almarhum A.M. Fatwa mengusulkannya untuk membangunkan masjid di lingkungan Kampus PKP yang sekarang berdiri megah dengan nama masjid Baitushshidqi.
 Untuk penamaan masjid, juga tidak lepas dari usulan almarhum yang saat itu itu berdiskusi dengan almarhum Yani Wahid dan penulis. Pada awalnya, diusulkan kepada almarhum H. Ali Sadikin dua nama yaitu: masjid Nurul Quran yang terinsiprasi dari sejarah PKP sebagai proyek monumental MTQ V tahun 1972 dan masjid Baitushshsidqi yang terinspirasi dari jejak almarhum dalam menegakkan prinsip-prinspi kebenaran dalam amar ma’ruf nahi munkar serta melekatkan nama “Sadikin”  diambil akar kata bahasa Arab yang lebih dekat dengan kalimat Baitushshidqi.
Akhir 1998, almarhum sebagai seorang politisi senior aktif terlibat dalam gerakan reformasi yang menumbangkan rezim Orde Baru yang merubah tatanan kehidupan sosial politik di negeri ini. Aktifitas politik yang tadinya dikekang berubah, banyak tawanan politik yang dibebaskan termasuk kawan-kawan beliau sesama korban politik, diantaranya Fauzi Isman dan Darsono. (Kasus Talang Sari, Lampung 1989) yang dikenalkan kepada penulis. Pada tahun 1999 terjadi peralihan periode kepengurusan dari almarhum ke ketua umum yang baru (alm)  H. Amien HS. Karena kesibukan  almarhum di parlemen, menjabat Wakil Ketua DPR periode 1999-2004 dan Wakil Ketua MPR 2004 – 2009, sejak itu penulis jarang bertemu dan berdiskusi tentang PKP. Silaturahim secara personal tetap terjalin walaupun dengan pertemuan yang terbatas.
Dari beberapa pertemuan dan diskusi, penulis menilai almarhum sosok yang tegas dalam hal – hal yang prinsipil. Bahkan ketegasan itu juga berlaku pada sahabat dekat sekalipun. Beliau berserita bagaimana Pak Usep Fathuddin sebagai salah satu Direktur di kampus pernah diminta non aktif  dari Yayasan PKP. Hubungan silaturahim secara pribadi dengan beliau tetap baik dan terjaga. Selain tegas, almarhum adalah sosok pekerja keras. Waktu dulu almarhum masih aktif di PKP, penulis selalu on call, harus siap kapanpun. Almarhum adalah sosok “energizer” sejati yang selalu mengajarkan tentang nilai-nilai disiplin, kerja keras,  dan keikhlasan.
Almarhum mulai aktif kembali di PKP sejak kepengurusan Ketua Umum  Drs. K.H. Amidhan.  Sebagai Wakil Ketua Pembina dan penulis diminta di Badan Pembina, kebiasaan almarhum  senang diskusi dan mendengarkan masukan dari berbagai pihak yang terkait sebelum mengambil keputusan. Keputusannya komplementer dan terukur, walaupun terkadang menimbulkan “gejolak” Berdiskusi dengan beliau mengasikkan, bahkan dua hari sebelum meninggal, penulis masih ngobrol dengan almarhum di RS MNC. Kematian adalah sesuatu yang pasti datang. 
Pada akhirnya, banyak nilai-nilai warisan dari almarhum khususnya atau dari para Pendiri Yayasan yang sudah meninggal dunia bisa dijadikan  budaya organisasi kampus PKP. Ketegasan, konsisten, kejujuran, keadilan dan keberanian  adalah warisan nilai yang harus tetap dijadikan cermin dalam membuat sebuah kebijakan.
Akhirnya, mari kita doakan khususnya bagi almarhum A.M. Fatwa, dan para Pendiri Yayasan PKP semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan diampuni segala kesalahannya.  Amien, al fathihah.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar