Selasa, 10 November 2015

Prestasi MTs PKP semester ganjil 2015-2016

Daftar siswa berprestasi;

A. Silat November 2015 @Padepokan Silat TMII, (Kotamadya Jakarta Timur)
1. Maulana Fajar, 9A. Emas
2. Zahra Zeta, 9C. Emas
3. Anita, 8C. Perunggu
4. Choirunisa, 8B. Perunggu
5. Ananda Hasibuan, 8D. Perunggu
6. Rifki Julian, 9B. Perunggu
7. Shafira, 7A. Perunggu

B. Robotik Oktober 2015@Kuala Lumpur, Malaysia. (Internasional)
8. Rafi M 7D, Dyfan 7C dan Mabita 7B. Emas robot transporter
9. Reyna 7B, Bintang V 7D dan Abimanyu 7A. Perak robot line tracer
10. A Dipa 7D, Ghefira 7D dan Firza. Perak robot transporter
11. Diva Sabrina 8D dan Chamidah 8D. Perunggu line tracer

Image result for silat mts pkp
 
 
Ucapan selamat dari Dewan Guru, Pengurus Komite dan seluruh siswa kelas 7, 8 dan 9 kepada siswa MTs PKP berprestasi sesaat setelah upacara memperingati hari Sumpah Pemuda 10 November 2015

Rabu, 04 November 2015

Dan Harap Ini

Dan Harap Ini
oleh Salni Q

Didunia kemungkinan, berderet harap yang mengurut rapi
Halangan hanya menjadi sebatas samaran, dan harap tetap
menjadi tuntutan
Lari tergesa-gesa tak mengubah garis yang ada
Bila sadar dari awal, mungkin berjalan saja lebih baik
Benarkah...
Detik berjalan,
Harap makin melambung terbang,
Mata semakin membelalak,
Nafaspun semakin menyesak
Sadar tak sadar tetap menjadi tak sadar,
Selama ada harap yang masih mencari penebus kerontang
Kemana harap ini mencari gelayutan,
Padahal pedih harus menjadi persyaratan
Dan harap ini kembali lagi menari
Seperti bersumpah setia dengan nafas dikandung badan
Kejar terus, dikejar terus...
Dan harap ini, akan tetap mengurut rapi

Mata Yang Terperangkap Sinar

Mata Yang Terperangkap Sinar
oleh Salni Q

Dalam indahnya jalan kebaikan, melantun rencana terindah yang tak terduga
Bisik-bisik angin membawa rahasia yang tak tersentuh naungan insani
Lembaran tiga surya dan dua purnama, berakhir diperangkap sudut mata
Hingga hari beranak, garisan rencana masih tetap mengukir kisah
Kaki hanya bisa berjalan, mata hanya bisa melihat, dan yang
berbisik dikesunyian senyap hanya bisa melafalkan keagungan
Berdetup-detup kisah masih bernyanyi
Tetap mencari hulu disepanjang musim yang telah dilewati
Kemana mata yang terperangkap itu?
Yang berbisik dikesunyian senyap, kini telah merindui

Yatim Tak Selamanya Salah

Yatim Tak Selamanya Salah 
oleh Salni Q

Awan mendung masih bergerak rapih kearah timur. Angin menyertai dengan
senanadung berita yang akan terjadi. Setelah sekian bulan lamanya matahari cukup
memanggang bumi. Mungkin hari ini yang dinanati-nanti., hujan turun yang seolah-olah
tumpah dari syurgawi.
“Mama,utih,,!!!” Tangan mungil Pipit menunjuk baju putih muslim yang baru dibeli oleh
Ratih beberapa bulan yang lalu.
“Yang ini saja, kan itu untuk lebaran besok.”
“Aaah,,,mama utih,,!!!” Pipit tetap memaksa manja. Bagaimana Pipit mau mengenakan
baju yang dipilihkan mamanya, Ratih. Baju itu terlihat kumal dan sempit. Lalu apa yang
dipikirkan Ratih? Padahal ada beberapa baju yang lebih layak untuk dikenakan Pipit,
anaknya yang berumur tiga tahun itu.
“Mamaa..!!!” Kini Pipit menangis. Tapi tetap saja Ratih tak menghiraukan.
Walaupun ia tersenyum pada Pipipt, ia tetap membantu mengenakn baju itu untuk
anaknya.
“Pras,,!!Sudah siap belum?Keburu hujan nanti.” Kali ini Ratih memanggil anak
sulungnya yang baru menginjak dibangku sekolah Menengah Pertama itu. Tanpa
menunggu teriakan yang kedua dari ibunya, Pras keluar dari tirai kain ruang tengah. Tak
jauh berbeda dari Pipit, Pras memakai baju kokoh putih dan celana yang tak layak pakai
bila dilihat.
“Hp kamu jangan dibawa,ya!”
“Yah mah. Pras masukin kekantong deh. Gak akan terlihat orang.”
“Pras nurut sama mama! Mana ada anak yatim yang punya Hp? Nanti uang santunan kita
bisa berkurang kalau ketahuan kamu bawa Hp. Kamu mau uang jajan kamu mama potong
nanti?”
Pras hanya bisa menggerutu kesal. Sementara Bang Urip sudah menunggu hampir
satu jam didepan pintu. Tukang ojek langganan Ratih ini masih dibilang saudara jauh
Ratih. Karena istri Bang Urip satu kampung dengan Ratih. Semenjak Yadi-suami Ratih
meninggal dunia tiga setengah tahun yang lalu, Bang Urip adalah satu-satunya saudara
yang sering Ratih Mintai tolong. Tentu saja dengan tak percuma, Bang Urip selalu
mendapatkan uang ‘cipratan’ dari Ratih setelah ia mengantar si Janda dan anak Yatim itu
pulang-pergi menjemput uang santunan. Ya, sekarang sumber penghasilan utama Ratih
adalah uang santunan atas nama kedua anaknya, Pras dan Pipit. Dan dengan alasan inilah
Ratih bertahan untuk tidak menikah lagi. Bukan hanya sekedar masih sayang dengan
almarhum suaminya saja, melainkan tentu akan lebih untung menerima uang santunan
yang tak pernah ada habisnya dari lembaga-lembaga sosial yang ada. Tak perlu modal
dan tak perlu usaha.
“Cepat, Rat. Sepertinya mau hujan besar ini.”
“Iya, nih Pipit susah diatur dari tadi. Rewel terus.”
“Bawakan saja ia mainannya, supaya tidak rewel disana.”
“Wah iya, sudah jam empat. Bu Haji mungkin sudah ceramah sekarang. Pras, ayo
berangkat!”
Ratih menggendong Pipit yang masih sesegukan, sisah-sisah menagis tadi. Boneka
barbienya juga ikut serta dipelukannya. Setelah mengunci pintu, mereka segera mengatur
posisi duduk dimotor bebek Bang Urip. Pipit duduk dijok paling depan, dilindungi oleh
tubuh besar Bang Urip. Kemudian Pras berada ditengah-tengah jok, disusul Ratih yang
duduk diurutan paling belakang.
Kilasan angina mengiringi mereka. Mengibas-ngibas tubuh mereka dijaln yang
mulai ramai dilalaui pengendara mobil dan motor. Tampaknya berita angin yang
mengatakan akan hujan lebat, membuat pengendar mobil dan motor ingin segera sampai
di rumah. Tak lagi bisa dihindari, mereka berebutan jalan untuk saling mendahului.
Alhasil jaln yang mempunyai lebar tiga meter itu menjadi tidak beraturan.
Awalnya Bang Urip masih dengan kecepatan yang rendah untuk mengimbangi keadaan
dijalan itu. Tapi Ratih selalu mendesak untuk mempercepat motor agar segera sampai di
Pondok Al-Hasyim milik Bu Haji.
“Tolong cepat sedikit, Bang! Sepertinya kita sudah terlambat sekali. Ini sudah waktunya
pembagian amplop untuk anak yatim, nanti kehabisan. Katanya Bu Haji mengundang
lebih banyak anak yatim lebih banyak dari bulan lalu!”
Ratih memperkuat suaranya, agar Bang Urip segera mempercepat motor bebeknya.
“Mama au ujan, bonecanya basah. Puyang aja!” Tentu Ratih tak mendengar celotehan
Pipit yang duduk didepan. Tapi Pras yang duduk ditengah dan mendengar itu, langsung
mentrasfer perkataan Pipit kepada Ibunya.
“Mah, Pipit minta pulah. Bonekanya takut basah!”
“Sudah diam saja, Pra!Sedikit lagi juga sampai.”
Bang Urip tak merespon tanggapan Ratih pada Pipit. Sekarang jalanan mulai
sedikit merenggang. Tapi Bang Urip masih berusaha mengimbangi jalanan dicuaca
seperti ini. Angin masih berhembus kencang. Sementara mereka harus mengejar waktu
untuk segera sampai di Pondok Al-Hasyim. Dari arah belakang terdengar bunyi motor
yang suaranya melengking. Semakin lama suara motor itu semakin mendekati motor
Bang urip. Kecepatan motor itu hampir mengalahkan suara angin yang masih ribut. Dan
ketika berjarak tiga meter dari motor Bang Urip, motor yang berkecepatan tinggi itu tiba-
tiba tergelincir karena ,menabrak batu yang berukuran kepalan tangan. Keseimbanag
motor itu pun hilang. Motor itu akhirnya lepas dari jalur lurusnya dan menyimpang tiga
puluh derajat kearah kiri jalan. Motor Bang Urip yang tepat berada didepannya terseret
kecepatan motor yang oleng itu. Bang Urip, Ratih , dan Pras spontan kaget dan berteriak
histeris. Hanya Pipit yang sempat berucap satu kata dalam teriakannya,”Mammaaa,,,!!!”
Motor Bang Urip ikut oleng. Ia sempat menginjak rem kakinya kuat-kuat. Ditambah rem
tangannya secara mendadak. Akhirnya Pipit yang duduk didepan dan tak punya kendali
untuk berpegangan, langsung terpental kedepan jalan. Sementara Bang Urip, Ratih, dan
Pras ikut terseret motor yang menggosok aspal jalan. Motor yang menabrak Bang Urip
dan Ratih ini sudah lebih dulu menabrak trotoar jalan. Nasibnya tak berbeda jauh dengan
Pipt, pengendara motor itu terpental jauh dari motornya.
Seketika saja situasi jalanan itu tampak histeris penuh dengan teriakan orang-
orang yang menyaksikan kejadian itu. Sementara angina dengan cepat membuat awan
semakin berkumpul dan menurunkan hujan lebatnya. Sekarang darah-darah mereka
bercampur dengan air hujan. Seakan sekaligus menmbersihkan dosa-dosa yang keluar
dari luka mereka.
Tak butuh waktu yang lama,mereka langsung dievakuasi ke klinik terdekat.
Karma bila kerumah sakit akan memebutehkan waktu yang lama untuk pertolongan
pertama. Bang Urip dan Pras masih dapat berjalan setapak demi setapak untuk mendekati
Raiph yang masih terbaring pingsan ditempat tidurnya. Mereka berdua hanya
mendapatkan luka gesekan dikaki dan tangannya. Sementara Ratih mendapatkan luka
lebam didaerah pipi kirinya. Pras menangis sesegukan. Makin lama makin terdebgar
sangat keras. Bang Urip segera menenangkan Pras dengan memeluknya erat-erat. Karena
tangisan Pras itu, akhiryna Ratih bangun dari pingsan. Ia mengeluh kesakitan pada
kepalanya.
Setelah itu, ia mendapatkan Bang Urip dan Pras berdiri tepat disamping tempat
tidurnya. Spontan Ratih lang memeluk Pras yang masih menabgis sesegukan.
“Pras kamu tidak apa-apa nak?Alhamdulillha..!!!Engkau masih melindungi dan
menyelamatkan kami Ya Allah!!” Tangisan Ratih makin menjafi-jadi.selalu
mengucapkan syukur pada Tuhannya. Namun tiba-tiba Ratih teingat pada Pipit yang
belum dilihatnya.
“Pipit mana, Pras?Pipit baik-baik saja kan?Bang Urip, Pipit mana, Bang”
Ia tak juga mendapatkan jawaban. Bang Urip dan Pras masih menangis dengan sesak.
Walau demikian Bang Urip berusaha tetap tenang untuk menyampaikan sesuatu pada
“Rat, mungkin kita semua memang sangat menyayangi Pipit, tapi ternyata Allah yang
leebih saying sama Pipit. Sekarang Pipit sudah tenang disana Rat.” Suara Bang Urip
semakin melemah dan tak terdengar.
Ratih diam kaku. Tak menangis,tak histeris.matanya langsung kosong seperti
mayat. Ia tak meemperlihatkan respon apa pun. Ratih tak bergerak sedikit pun. Ratih
hanya menangkap suara terkhir Pipit ketika kecelakaan itu terjadi, Maammmaaa…!!!

Hanya Untuk Naya

Hanya Untuk Naya oleh Salni Q


“Fikirkan lagi keputusanmu itu, Za”. Suara lembut Ibu akhirnya memecahkan
keheningan diantara kami. Sementara Naya, sambil menangis sesegukan, ia membanting-
bantingkan mainannya hingga hampir tidak berbentuk lagi. Ia terlihat sangat kesal dengan
semua mainannya itu. Sekilas dalam keheningan ini, mata kami melihat tingkah Naya yang
memang tak biasa. Dengan cepat kumendekatinya untuk merengkuh dan memeluknya erat.
Kucium lembut kening Naya yang basah karena keringat, “Kenapa,sayang?”. Lagi-lagi
perasaan ini datang. Mencambuk belah hatiku yang habis terkikis. Padahal aku sudah selalu
berusaha untuk menerima.
“Nda,nda,,!” Tubuh Naya mulai memberontak dari pelukanku.
“Kenapa?Mainannya jelek ya sayang?Besok kita beli yang lebih bagus lagi ya?”
“Nda,nda,ndaaaaa,,,!!!”. Naya terlihat semakin kesal. Kemudian ia memukul-mukul
kepalanya dan berteriak semakin keras.
“Jangan,Naya!Ini mama sayang…” Aku mencoba kuat untuk Naya. Walau hatiku tarasa
beribu-ribu perih memilu. Terlebih lagi didepan Ibu sekarang. Mata Ibu kini masih memana
kami. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin ia masih bingung dengan nasehatnya
untukku. Tentu ia berharap yang terbaik untuk cucunya,Naya. Tapi ia juga berharap agar
aku keluar dari pekerjaanku begitu saja.
“Awalnya mungkin sulit,Za. Tapi nanti Naya juga akan terbiasa dengan Ibu, dan kamu bias
bekerja seperti biasanya.”
Aku masih diam dan memandangi wajah Naya yang cantik. Aku mencoba
membayangkan ia bisa berbicara manja, bercerita tentang teman-temannya yang
jahil,kemudian berhitung, bernyanyi, seperti anak normal lainnya. Oh, Nayaku. Kau
memang tak biasa, kau teramat istimewa.
“Atuakah kamu memang tidak percaya Ibu untuk menjaga Naya, Za?”
Kali ini aku tertegun mendengar pertanyaan Ibu. Sungguh tak maksud hatiku untuk
menyinggung perasaan siapapun. Aku hanya ingin selalu bersama Naya setiap saat dengan
segala keterbatasan yang ia miliki. Naya autis. Naya hanya butuh aku.
“Ibu, maaf sebelumnya. Tak pernah Iza berpikiran seperti itu. Tapi memang Iza hanya ingin
bersama Naya dan selau mendampinginya. Mas Fikri juga mendukung keputusan Iza untuk
berhenti bekerja. Iza hanya ingin benar-benar berarti untuk Naya, membantu dalam segala
hal perkembangannya, membantu Naya menemukan kelebihan diatas kelemahan yang ia
miliki. Bu, Iza mohon maaf sekali lagi jika Iza mengecewakan Ibu. Iza sangat berterima
kasih atas segala kasih sayang dan usaha Ibu dan Bapak menyekolahkan Iza sampai lulus
sarjana dan sekarang menjadi seorang guru seperti cita-cita Iza kecil dulu. Tapi sekang Iza
punya Naya, Iza hanya ingin berarti untuk Naya, menjadi guru untuk Naya, untuk buah hati
Iza,Bu.”
Nafasku mendesah panjang. Ini memang keputusan berat, tapi aku sangat berharap
Ibu mau mengerti dengan semua keputusanku ini.
“Ilmu yang Iza punya takkan hilang,Bu. Semua yang Iza dapatkan dari bangku kuliah
sampai Iza menjadi sarjana sangat berarti untuk Iza dan,,,” Kupandangi lagi wajah malaikat
kecilku yang mulai tenang,”juga untuk Naya”
Dulu memang semangat api selalu membara dihatiku. Berasal dari mimpi untuk
menjadi salah satu pengabdi negeri, seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Kurakit semua
senang dan sendu menjadi dayungku. Sampai air mata pun menjadi asin bercampur
keringat yang tak pernah berhenti mengukir kata ‘semangat’. Kumengajak jiwa Ibu dan
Bapak untuk bersatu dalam mimpi ini. Selalu berharap ada doa yang meridhai hingga aku
mencapai puncak. Menjadi seoarang guru yang tentunya memakan biaya banyak ketika
dibangku kuliahan.
Ibu mendekati kami. Melihat Naya dengan mata takjub sebagai ciptaan Tuhan yang
indah. Walau terkadang aku melihat ada cahaya lelah disana. Ibu mengecup kening Naya
dengan rasa cintanya. Butiran hangat disudut mataku membuat hati ini semakin mendesak
dan sesak. Sementara langit masih mengukir biru, angin mencoba teduhkan suasana hati
kami. Kesenjangan hati mungkin mulai terkikis, ketika kami melihat wajah malaikat kecil
itu mulai sibuk bermain warna diatas buku gambarnya.
“Iza akan selalu berusaha menjadi Ibu yang baik untuk Naya. Iza ingin Naya
menjadi seseorang yang bisa berarti dan diakui keberadaannya,Bu. Naya pasti bisa
memperlihatkan kelebihan diatas kekurangan yang ia miliki. Walu ia adalah autis”
Ibu mulai tersenyum merekah. Dan matanya pun tetap memandang Naya. Coretan
warna crayon diatas kertas itu, Naya ukir bagaikan warna pelangi indah yang mewakili hati
dan masa depannya.
Naya kembali lagi berlari-lari mengitari kami, tentu sambil membawa buku
gambarnya. Ia mulai tertawa seperti dunia hanya miliknya. Dan tanpa berpikir lagi, Naya
langsung menubruk tubuhku sambil memeluk. Ia tunjukan buku gambarnya tepat didepan
mukaku.
“Mammaaa,,,!” Ia tertawa lagi.
Didedikasikan kepada seorang Ibu yang menjadi guru sejati untuk buah
hatinya.
I LOVE YOU MOM…

Diantara batas

Diantara batas oleh Salni Q


Denyut nadi memanggil tak bersuara membentuk bulat.
Sungguh mencekam ceruk abu-abu menumbuk hati.
Nyata dan angan tak kulihat lagi bersahabat.
Semua menuntut membelah pihak .
Kini ku tak bisa senyum walau ragu dan sejarah tak bisa
ku hapus dengan jiwa……
Sungguh mencekam bila diantara batas…
angel

Demonstrasi Nurani

Demonstrasi Nurani
Cerpen oleh Salni Q

Matahari yang membakar bumi, membuat rombongan para demonstran makin
menyla-nyala meneriakan yel-yel yang dibawa atas nama rakyat. Seolah predikat
pahlawan tanpa tanda jasa yang sering melekat pada guru, patut juga disandang untuk
para mahasiswa ini. Tak mengenal panas, tak mengenal lelah, tak melihat status, apa lagi
memikirkan siapa yang akan membayar mereka untuk capek-capek berjalan jauh sambil
teriak sepanjang jalan. Mereka hanya tahu, semua ini untuk rakyat, demi masa depan
Indonesia, dan demi kelangsungan hidup anak-cucu mereka. Para mahasiswa ini tak ingin
keturunannya kelak hanya akan diwarisi sisah-sisah kekayaan Indonesia akibat
perampokan para korupsi. Jiwa muda mereka makin membakar lagi semagat mereka.
Setidaknya mereka akan menjadi salah satu pencatat sejarah Indonesia ‘Masiswa turun
kejalan mengaspirasikan suara rakyat!’ Mungkin pemikiran ini juga ada dibenak sebagian
kecil dari mereka. Karena tak menutup kemungkinan hanya sedikit saja yang tahu tujuan
dari aksi demonstrasi yang mereka lakukan, tak terkecuali Jay. Tapi walau demikian yang
penting aksi ini bisa berjalan lancar, teratur, tercapai apa yang mereka inginkan, dan
meriah. Jay masih berada di tengah-tengah rombongam mahasiswa itu. Sesekali ia
mengeluarkan telapon selulernya dari saku celana kiri. Jay sangat terganggu dengan nada
panggilan dari telepon selulernya. Saking seringnya telepon itu berbunyi, akhirnya Jay
menonaktifkannya, dan Jay melanjutkan lagi aksi demonstrasi itu
Tepat didepan gedung KPK yang gagah berdiri, mahasiswa yang menjadi jura
bicara, masih terbakar semagat aspirasi
“ Ketua KPK harus bersih! Bukan pembunuh, bukan penjilat!!!”
“ Betul!! Betul!!”. Pengikut setia jubir tersebut makin menyalakan suasana semangat
“ Indonesia akan semakin bobrok moral jika pemimpin itu masih terus dipertahankan!!
Indonesia akan semakin hancur, Indonesia akan semakin miskin, darah rakyat tak bolah
lagi dihisap. Masyarakat tak lagi bisu! Masyarakat tak lagi buta! Kami bukan orang-
orang yang bisa dibodohi lagi!!! HIDUP RAKYAT INDONESIA, HIDUP!!!”
“ Hidup, Hidup, Hidup!!!”. Semua kekesalan dan kekecewaan tumpah pada teriakan itu.
Hampir satu setengah jam lebih para mahasiswa itu berorasi. Tentunya banyak
energi yang mereka keluarkan untuk aksi ini. Dan ketika matahari bergeser tiga puluh
derajat dari posisi tengahnya, Jay tak kuat lagi berdiri mendengarkan orasi. Kering
tenggorokan dan gendang perutnya semakin kompak saja melantunkan lagu
keroncongan. Tentunya ia tak bisa mengandalkan subsidi konsumsi dari kelompok
teman-teman demonstrasinya. Jay tahu mereka-termasuk Jay sendiri, hanya punya modal
nekad untuk datang dan berorasi ke gedung ini. Dan saat itu juga akhirnya Jay menepi
kepinggir trotoar jalan. Ia segera mencari tukang asongan makanan atau minuman.
Biasanya dalam kesempatan besar ini tukang asongan memang selalu siap siaga menjadi
penggiring setia peserta demonstrasi. Karena bagi mereka, kesempatan ini seperti lapak
gratisan untuk menghabiskan barang dagangannya.
Tukang minuman yang nampak tua, dengan perlahan mendekati Jay. Ia
menawarkan Aqua dingin dan minuman berbagai warna lainnya.
“ Aqua dinginnya, Nak?”. Senyum pedagang tua itu mengembang bersamaan dengan
minuman yang ia sodorkan untuk Jay.
“ Iya, Pak. Aqua dinginnya dua”. Seketika itu juga Jay langsung membuka minuman itu
dan meminumnya hanya dengan satu tarikan nafas saja.
Pedagang tau itu sekarang duduk disamping Jay dan melihat kearah gerombolan
mahasiswa yang sebagian besarnya masih berorasi.
“ Sudah kecapean ya, Nak? Gak ikut gabung lagi sama temen-temennya disana?”
pedagang tua itu sekarang mengajak Jay berbasa-basi.
“ Iya, Pak. Nanti saya gabung lagi. Saya kecapean. Ditambah lagi saya belum makan dari
pagi. Bapak punya jajanan makanan?”
“ Oh, saya cuma jual minuman saja”. Senyum itu kembali merekah, “ Kalau mau, saya
belikan makanan Warteg diujung jalan sana saja gimana?”
“Oh, tdak usah, Pak. Terimakasih, saya merepotkan saja. Nanti biar saya beli bareng-
bareng sama temen saya saja. Sekarang saya hanya merasa haus ko” dengan cepat Jay
menolak tawaran pedagang tua itu.
“ Kenapa Bapak tidak sekalian jual makanan saja. Kalau kesempatan aksi demonstrasi
seperti ini, biasanya banyak yang berniat beli, Pak. Dan Bapak bisa untung besar kan?”
“ Hehe, modalnya gak ada, Nak. Ini juga belum tentu cukup untuk makan.”
“Emm, maaf Pak sebelumnya. Saya rasa Bapak sudah terlalu tua untuk berdagang.
Mungkin boleh dikatakan Bapak sekarang seusia dengan kakek saya. Bukankah
seharusnya Bapak dirumah saja? Biar anak atau cucu Bapak yang menggantikannya?”
Sebelum menjawab pertanyaan Jay, pedagang tua itu mendesah panjang dan kembali
diikuti dengan senyum tenangnya.
“ Andaikan saya diberikan piliha Nak. Tapi sayangnya Bapak gak punya pilihan.”
“ Maksud Bapak? Tapi Bapak punya anak atau cucu kan?”
“ Ya, Alhamulillah saya punya lima anak. Dua perempuan dan tiga laki-laki.”
“ Lalu sekarang mereka kerja apa, Pak?”
“Saya tidak tahu. Karena sekarang kami sudah ndak tinggal bersama lagi.” Kini mukanya
sedikit memberat dari sebelumnya, tatapan matanya mulai jauh kedepan seperi melihat
masa lalunya yang mulai menari-nari. Dan sekarang pedagang tua itu mulai bercerita
panjang.
“ Mungkin mereka malu punya Bapak keré seperti saya. Saya pingin anak-anak saya
sekolah supaya tidak bodoh seperti saya. Rumah yang jadi harta satu-satunya juga sudah
saya jual. Tapi setelah mereka ke Jakarta dan punya kerja mereka sudah tidak balik lagi
jenguk-jenguk saya.”
Muka Jay sekarang juga mulai memberat. Seperti ikut merasakan setiap desahan
berat yang pedagang tua itu alami. Adakah kisah ini dalam kehidupan sekarang.
Bukankah semua ini Jay sering mendengar hanya melalui dongeng-dongeng saja?
“ Berapa lama Bapak tidak dijenguk anak-anaknya?”
“ Saya suda capek menghitung tahun, Nak. Saya juga sudah terlalu capek untuk hidup
menunggu, walaupun saya sungguh kangen sekali sama mereka.” Suara pedagang tua itu
melemah. Tenggorokannya mulai tercekak karena menahan sedih. Tak mungkin dielakan
lagi bahwa kisah itu pasti akan membuatnya menangis. Walaupun pada awalnya ia berusa
untuk tetap tersenyum.
Jay tidak bisa lagi berkata-kata. Mungkin sekarang Jay mulai merasakan sesak
yang mendalam didadanya. Kelelahan dan kepenatannya jauh-jauh berjalan kaki dan
teriak berorasi seperti tak ada hasilnya. Kini nuraninya yang mulai membuncah. Jay
teringat sesuatu dan memikirkannya dengan serius. Adakah yang ia lakukan
berdemonstrasi untuk kepentingan rakyat dan mengutuk para pejabat yang berkorupsi,
sedangkan selama ini ia sendiri menutup rapat hatinya untuk mendengarkan keluhan dan
nasihat ayah-ibunya karena ia sering melakukan aksi demonstrasi seperti saat ini. Kedua
orang tua Jay hanya ingin Jay cepat-cepat lulus. Setidaknya walaupun Jay tidak satu
pikiran dengan mereka, Jay bisa berpura-pura untuk mendengarkan kekhawatirannya
bukan? Tak perlu ia membantah, dan menyakiti hati mereka.
Seperti yang ia lakukan tadi. Jay menonaktifkan telepon selulernya karena ibunya
selalu menelpon berulang-ulang. Sementara kalau ibunya tahu ia ikut aksi demonstrasi
seperti sekarang, Jay akan mendapat nasihat dan kekhawatiran yang berlebihan dari
ibunya. Dan Jay sangat bosan dengan semua itu.
Jay perlahan mengambil telepon seluler dikantong kirinya. Ia mencoba untuk
mengaktifkannya kembali. Dan selang beberapa detik, ada laporan panggilan telepon dari
nomor seluler ibunya. Kemudian Jay menerima lima pesan masuk, semua juga dari
ibunya. Jay cepat-cepat membuka pesan tersebut.
Pesan 1 : “ Jay cepat pulang nak. Bapak sakit”
Pesan 2 : “ Jay kamu dimana? Kenapa telepon ibu gak kamu angkat Jay!”
Pesan 3 : “Jay, Bapak masuk rumah sakit Nak. Cepat pulang sayang. Kami gak
lagi marah sama kamu. Capat pulang sayang..”
Pesan 4 : “ Jay jawab SMS ibu, tolong nak!!!”
Pesan 5 : “ Jay ikhlasakan kepergian ayahmu, nak…”
Seketika itu juga Jay tak bisa menahan nuraninya yang meleleh. Pipi Jay juga
mulai basah, tapi mulutnya tersa benar-benar rapat. Kemudian pedagang tua itu melihat
Jay yang menangis sesegukan dan mencoba untuk merangkul serta menenangkan Jay.
“ Sudalah, Nak. Jangan ikut sedih dengan cerita saya. Saya sudah ikut seneng kok,
melihat gak semua anak seperti anak bapak. Contohnya seperti kamu yang brani
membela suara rakyat, iya kan. Orang tua kamu pasti bangga sama kamu!”
Jay makin dalam dengan sesaknya. Ia merasa berani menyuarakan hati rakyat,
tapi nuraninya beku untuk sebuah suara hati orang tuanya. Jay teringat ayahnya kembali.

Postingan Populer