Jumat, 05 Februari 2016

KISAH SAHABAT ANAS BIN MALIK



KISAH SAHABAT 2
ANAS BIN MALIK
oleh Syarifah Soraya -Guru hafalan Quran MTs PKP-

“ Ada dua hari dalam hidupku yang tak pernah terlupa sepanjang hayat ” kata Anas bin Malik mengawali kisahnya
 “ Dua hari yang selalu kukenang dengan gejolak rasa yang luar biasa, hari yang satu kukenang dengan kebahagiaan tak terkira dan yang kedua dengan kesedihan tak terhingga “ sejenak Anas terdiam, menghembuskan nafasnya perlahan sementara  para tabi’in yang mendengarkan dengan penuh khusyu menanti dengan tak sabar .
“ Hari yang pertama adalah satu hari kala aku berlarian menuju jalanan itu, jalan masuk kota yatsrib. usiaku kala itu sekitar 10 tahun dan aku  bersama berpuluh anak2 sebayaku tanpa menghiraukan keringat yang bercucuran di badan kami dan terik matahari yang menyengat kepala, kami menerobos kumpulan besar itu, kelompok laki-laki dewasa yang berdiri di sepanjang jalan, menantikan kedatangan seseorang... “
“ Memang sejak beberapa hari sebelum hari itu kabar akan kedatangannya kami dengar, hingga kamipun menanti di sepanjang hari dan pulang di sore hari dengan kesedihan karena dia tak kunjung tiba juga dengan harapan esok hari ia akan sungguh2 datang.. “
“ dan inilah harinya. Tampak dari kejauhan dua ekor unta berjalan beriringan. Dan entah mengapa semakin dekat keduanya hatiku semakin gemetar, senyumku semakin lebar, dan mataku nyaris tak kuizinkan berkedip agar tak kehilangan bahkan bayangan untanya sekalipun “
“ itulah dia..... berdampingan dengan sahabatnya Assidik, tersenyum penuh arti kepada kami yang menatapnya penuh rindu.. “
“ itulah dia... yang namanya selalu membasahi bibir ibuku tiap waktu, “ Dia mengajarkan kita berbuat begini, anas.. dia mengajarkan kita meninggalkan ini anas.. “ suara ibuku kala menyebut namanya kembali terngiang di telingaku..”
“ Ya, kawan.. Dia adalah Nabi Muhammad.. “
“ untuk pertama kalinya wajah indahnya kupandang, dan kalian tahu?? Aku dengan pikiran kecilku kala itu seraya memandang wajahnya berfikir, aku dengannya ingin selalu bersama “..
“ dan begitulah... waktupun berlalu, hingga suatu hari ibuku membawaku padanya setelah bertanya padaku dan kujawab dengan iya”
“ wahai Rosulallah.. kulihat semua orang baik laki2 maupun perempuan menghadiahkan sesuatu untukmu Dan akupun ingin melakukannya. Aku ingin memberikan padamu sesuatu yang berharga. Dan karena yang paling berharga dan kucinta yang kumiliki adalah anakku anas maka aku hadiahkan ia padamu, ya Rosulallah..  ajaklah ia pergi perang jika kau mau, atau perintahkan padanya apapun. Ia aku serahkan sepenuhnya untukmu.. “
Dan mulai hari itu, tinggallah aku di rumah Rosulallah SAW, membersihkan rumahnya, mencucikan piringnya, dan melayani kebutuhannya
Dan tahukah kalian, kawan ?
Meski tampaknya aku melayaninya, pada nyatanya dialah yang banyak memberi padaku, dia mengajarkanku semuanya, dia memperlakukanku sebagai anaknya, 10 tahun aku bersamanya dari sejak kedatangannya hingga wafatnya tak sekalipun kudengar dia memarahiku, dan tak sekalipun dia berkata untuk sesuatu yang  aku kerjakan ataupun yang tidak aku kerjakan
“ mengapa engkau melakukannya wahai anas ?? “
Sekali dalam masa baktiku padanya dia menegurku dan itu adalah tatkala dia memintaku untuk menyampaikan sesuatu kepada seorang sahabatnya, dan dia memintaku untuk segera melakukannya. Akupun menyanggupinya, bahkan karena ingin segera menyampaikan hajatnya akupun berlari menuju rumah orang tersebut. Namun kelelahan berlari akupun mulai berjalan dan semakin pelan , hingga aku melihat segerombolan anak2 sebayaku yang tengah bermain. Rasa penasaran membuatku menerobos mereka dan sebuah permainan menarik membuatku ikut bergabung menyaksikannya dan lalu lupalah aku akan perintahnya.. entah telah berapa lama aku berada disana ketika kurasakan tangan seseorang menutup mataku dari belakang, tangan yang begitu kukenal, tangan yang wanginya mengingatkanku pada perintahnya yang aku bengkalaikan. Maka dengan penuh perasaan bersalah akupun menoleh ke belakang, bersiap mendapatkan kemarahan akibat ketelodaran atau setidaknya teguran atas keterlambatan namun lihatlah dia.. senyum di wajahnya mengembang, tak ada kekesalan apalagi kemarahan yang ada hanyalah satu kalimat kecil yang terucap indah dari lisannya
“ ( ainal washi, ya anas.. ainal washi ya anas... )
( mana yang aku perintahkan wahai anas ?... ) maka akupun segera berlari melaksanakan tugasku..
Begitu banyak pelajaran yang telah dia berikan padaku, ilmu, adab, kebijaksanaan, hikmah, pengetahuan, doa, ibadah, kebaikan menjadikanku yang ketiga dari periwayat hadits2nya yang terbanyak sesudah abu hurairoh dan abdullah bin umar, salah satu dari nasihatnya padaku:
“ wahai anakku, jika kau bisa untuk sejak terjaga di pagi hari hingga malam menjelang dan di hatimu tak terdapat kebencian terhadap saudaramu seiman maka lakukanlah... wahai anakku ini adalah sunnahku, dan menghidupkan sunnahku berarti mencintaiku, mencintaiku berarti bersama denganku di surga- Nya.. “
Anas mengakhiri kisah hari pertamanya, dan memulai menceritakan kisah hari keduanya
Dan hari yang kedua adalah hari dimana kami tengah mengerjakan sholat dhuhur berjamaah kala itu, namun mendung menggelayuti kota madinah dan hati2 kami. Karena kami telah beberapa hari ini  tak diimami oleh Rosulallah lagi. Dia yang tengah sakit kala itu mewakilkan pengimaman sholatnya kepada Abu bakar sahabat terdekatnya.. namun tiba2 beliau menyingkap tabir dan masuk ke dalam masjid, membuat kami spontan keluar dari sholat kami dan ingin mendekatinya, Abu bakar memerintahkan kami untuk tetap diam di tempat, Rosulallah lantas maju ke depan mengimami kami sholat dan memerintahkan abu bakar untuk tetap berada di mihrab imam  sejengkal saja di belakangnya, suara takbirnya kala itu sudah sangat lemah dan tak terdengar hingga Abu bakarlah mengulanginya dan memperdengarkn gerakan sholat kepada kami. Dan kami tak pernah menyangka bahwa itu adalah sholat terakhir kami dengannya bahkan pertemuan kami yang terakhir, di akhir siang beliau meninggalkan kami, bertemu dengan Tuhan yang telah mengutusnya.
Tak pernah kulihat banjir airmata lebih banyak dari hari itu, tak pernah kulihat kesuraman lebih mengenaskan dari waktu itu, tak pernah kurasakan kesedihan dan kepedihan lebih nyata daripada hari itu, kami berkabung, kami berduka, kami tak lagi bisa menikmati hidup di dunia, mendung hati kami tak lagi beranjak, menggelayuti sisa hidup kami dan satu2nya hari yang kami nantikan sesudah itu adalah hari pertemuan kami dengannya.. dan aku..  hari yang paling aku nantikan  adalah satu hari nanti dimana aku akan datang padanya seraya berkata :
“ aku adalah pelayan kecilmu anas ya Rosulallah.... “
Dan tangis anaspun meledak... mengakhiri kisahnya kerinduannya kepada nabi Muhammad tak mampu lagi dibendungnya..
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Selasa, 10 November 2015

Prestasi MTs PKP semester ganjil 2015-2016

Daftar siswa berprestasi;

A. Silat November 2015 @Padepokan Silat TMII, (Kotamadya Jakarta Timur)
1. Maulana Fajar, 9A. Emas
2. Zahra Zeta, 9C. Emas
3. Anita, 8C. Perunggu
4. Choirunisa, 8B. Perunggu
5. Ananda Hasibuan, 8D. Perunggu
6. Rifki Julian, 9B. Perunggu
7. Shafira, 7A. Perunggu

B. Robotik Oktober 2015@Kuala Lumpur, Malaysia. (Internasional)
8. Rafi M 7D, Dyfan 7C dan Mabita 7B. Emas robot transporter
9. Reyna 7B, Bintang V 7D dan Abimanyu 7A. Perak robot line tracer
10. A Dipa 7D, Ghefira 7D dan Firza. Perak robot transporter
11. Diva Sabrina 8D dan Chamidah 8D. Perunggu line tracer

Image result for silat mts pkp
 
 
Ucapan selamat dari Dewan Guru, Pengurus Komite dan seluruh siswa kelas 7, 8 dan 9 kepada siswa MTs PKP berprestasi sesaat setelah upacara memperingati hari Sumpah Pemuda 10 November 2015

Rabu, 04 November 2015

Dan Harap Ini

Dan Harap Ini
oleh Salni Q

Didunia kemungkinan, berderet harap yang mengurut rapi
Halangan hanya menjadi sebatas samaran, dan harap tetap
menjadi tuntutan
Lari tergesa-gesa tak mengubah garis yang ada
Bila sadar dari awal, mungkin berjalan saja lebih baik
Benarkah...
Detik berjalan,
Harap makin melambung terbang,
Mata semakin membelalak,
Nafaspun semakin menyesak
Sadar tak sadar tetap menjadi tak sadar,
Selama ada harap yang masih mencari penebus kerontang
Kemana harap ini mencari gelayutan,
Padahal pedih harus menjadi persyaratan
Dan harap ini kembali lagi menari
Seperti bersumpah setia dengan nafas dikandung badan
Kejar terus, dikejar terus...
Dan harap ini, akan tetap mengurut rapi

Mata Yang Terperangkap Sinar

Mata Yang Terperangkap Sinar
oleh Salni Q

Dalam indahnya jalan kebaikan, melantun rencana terindah yang tak terduga
Bisik-bisik angin membawa rahasia yang tak tersentuh naungan insani
Lembaran tiga surya dan dua purnama, berakhir diperangkap sudut mata
Hingga hari beranak, garisan rencana masih tetap mengukir kisah
Kaki hanya bisa berjalan, mata hanya bisa melihat, dan yang
berbisik dikesunyian senyap hanya bisa melafalkan keagungan
Berdetup-detup kisah masih bernyanyi
Tetap mencari hulu disepanjang musim yang telah dilewati
Kemana mata yang terperangkap itu?
Yang berbisik dikesunyian senyap, kini telah merindui

Postingan Populer