Jumat, 05 Februari 2016

Tentang Rasulallah SAW

Puisi Tentang Rasulallah SAWoleh Syarifah Soraya -Guru Hafalan Quran MTs PKP- 


Katakanlah adakah seseorang yang lebih hebat darinya ?
Yang Allah Tuhannya membagi rahmat untuk dia bagikan pada semesta?
Yang jutaan malaikat kepadanya tak berhenti bersholawat, matahari karena do’anya tenggelam terlambat, bulan terbelah dan pepohonan sujud kepadanya?

Katakanlah adakah yang lebih indah darinya?
Alif hidungnya, nun alisnya, dan mim bibirnya
Jika Yusuf mendapat separuh ketampanan
Maka dia telah diberi ketampanan sempurna.

Adakah yang lebih indah darinya?
Di tangannya ada berkah, di hatinya ada cinta
Di matanya ada telaga
Di dalamnya kita bisa berenang dalam sejuk kasihnya.

Katakanlah siapa yang lebih baik darinya?
Kasihnya dirasa hingga bahkan oleh si kafir yang durhaka
Dermawannya tak pernah takut kefakiran mendera
Tawadhu, sabar, syukur, ikhlas, dan selalu berlapang dada
Senyuman dari bibirnya tak pernah  sirna

Katakanlah adakah selainnya yang sempurna?
Dia mengingat Allah di setiap waktunya
Memberi syafaat hingga selamat umatnya dari siksa neraka
Berkorban bahkan dengan darah dan air mata

Wahai...
Yang kami inginkan darimu
Adalah bisa bersama denganmu
Ya RosulAllah...

Puisi Tentang Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam




Puisi Tentang Rasulullah Sholallahu 'Alaihi Wassalam 
oleh Syarifah Soraya -Guru Hafalan Quran MTs PKP-
Anakku..
Aku mengingatkanmu tentang sebuah fajar
Fajar terindah dalam sejarah
Fajar kelahiran sang nabi
Fajar kala sungai2 yang semula mengering kembali mengalirkan air,
Kala bunga2 bermekaran meski belum waktunya..
Kala api sesembahan kaum persi padam seketika
padahal ia adalah api abadi yang tak pernah padam ribuan tahun lamanya,
dan kala berhala2 kaum romawi tanpa angin, badai ataupun gempa bumi
semuanya ditemukan hancur berkeping di waktu fajar
fajar hancurnya kemusyrikan
fajar terbitnya hidayah
fajar bermulanya sinar keimanan
ya...
betul anakku..
fajar lahirnya Nabimu Muhammad SAW
fajar senin, 12 robiul awwal 571 masehi..

( H5h )

 Anakku..
Bayi mungil yang diberi nama Muahmmad itu keluar
dari rahim bundanya Aminah binti wahab tanpa darah menyertainya,
tanpa air2 kotor bersamanya..
ia seperti turun dari langit dan bukan keluar dari rahim wanita layaknya.
Saat keluarnya, bayi mungil itu tersungkur sujud kepada Tuhannya..
luar biasa..

Syaffa ibunda Abdurrahman bin auf yang membidaninya berkata :
“ Aku angkat bayi itu,  dan lihatlah..!!
 Jari telunjuknya  menunjuk ke arah langit
tali pusarnya telah terputus sempurna,
dia sudah berkhitan..
dan duhai..
celak mata telah menempel di matanya yang indah...”
bayi itu istimewa
calon nabi paripurna

(H5h)

 Anakku..
Nabimu Muhammad SAW tumbuh cepat luar biasa.
Ia telah mampu bicara di usia baru beberapa bulan saja,
Ia berjalan di usia 6 bulan
dan ia  ikut menggembala kambing bersama saudara2 sesusunya di usia satu tahun..
hampir 4 tahun ia tinggal bersama keluarga halimah assa’diyah
yang telah menyusuinya
hingga ia dikembalikan kepada bunda tercinta setelah kejadian pembelahan dada
namun 2 tahun kemudian di usia 6 tahun bundanya meninggal dunia di abwa
iapun bersama sang kakek 2 tahun sampai wafatnya
dan ia lalu bersama keluarga abu thalib pamannya
yang hidup dalam kesulitan..

anakku..
nabimu tak selalu beruntung hidupnya..
Tuhan mengajarkannya makna perjuangan
Maka anakku..
Ikuti nabimu
Berjuanglah, dan Jangan mudah menyerah..

(H5h)

 Anakku..
Tahun demi tahun berlalu untuk nabimu Muhammad SAW
Ia dikenal jujur, dan dapat dipercaya
Menggembalakan kambing membantu ekonomi keluarga
Sesekali ikut membawakan barang dagangan bersama kafilah yang yang berniaga
hingga kala usianya mencapai 25 tahun datanglah pinangan dari putri khuwailid,
seorang janda kaya bernama khadijah.
Yang meski usianya lebih tua 15 tahunnya,
khadijah dikenal dengan kecantikan, kekayaan dan harga diri
yang membuat semua lelaki quraisy tak akan menolak pinangannya.
Nabi Muhammadpun menikah dengannya.

Dari khadijah Ia dikaruniai 6 orang anak
Qasim dan Abdullah keduanya meninggal di usia balita
Ruqayyah, fatimah, ummi kaltsum dan zainab
Putri2 beliau yang kesemuanya beriman kala sang ayah diutus Allah nantinya

( H5h )

 Anakku..
Usia nabi kala itu 40 tahun kala wahyu pertama Ia terima,
di gua hiro tepatnya
tempat beliau mengasingkan diri dari kehidupan kaum jahiliyyah
jika suatu saat kau sampai di gua itu, kau akan tahu
dari atas sana  tampak kecil kota mekkah dan penduduknya..
membuat Nabi Muhammad mampu meliahat segala sesuatu dengan lebih bijaksana

Hingga suatu hari kala dia tengah berada di gua hiro seorang diri
Malaikat jibril datang padanya dengan surat alalaq pertama sampai kelima;

 ( bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan ( ) dia mencipta manusia dari segumpah darah ( ) bacalah dengan nama Tuhanmu yang mulia ( ) Dia telah mengajarkan manusia dengan pena ( ) mengajari yang tak diketahui sebelumnya ( ) )

( H5h )

 Anakku..
Nabi menyampaikan syariat islam dan kerosulannya kepada kaum quraisy
Diantara mereka ada yang beriman seperti abu bakar,
utsman bin affan, ali bin abu thalib, zaid bin haritsah dan istri tercintanya Khadijah
Namun tak sedikit pula yang ingkar bahkan menghalangi dakwahnya
Tahun2 pertama berisi Gangguan dari mereka   
bahkan mereka bersepakat untuk menyingkirkannya..
anakku..
berharap perlindungan iapun memutuskan hijrah ke thoif bersama zaid bin haritsah.
ternyata sia2, disana mereka yang diharap membelanya justru berbalik mencacinya..
mengolok2, bahkan mereka memerintahkan anak2 kecil mengejarnya,
melemparinya dengan kerikil sembari meneriakkan kalimat2 hina: muhammad gila..
begitu kata mereka..
namun ia sabar, ia teguh, ia tegar
dihadapi semuanya dengan kekuatan doa :
“ ya Allah... apapun yang terjadi, selagi Engkau tidak murka padaku..
maka aku tak  peduli.. “

( H5h ) 

 Anakku..
Di tahun ke 13 dari kenabian beliau diperintahkan hijrah ke madinah
bersama sang sahabat pilihan Abu bakar RA

Di sana Ia menyusun kekuatan
Pasukan demi pasukan dihantar ke medan perang
Sejarah menorehkan kehebatan pasukan islam
di badar, khaibar, khandak dan lainnya
kabilah2 arab tunduk dan masuk islam dalam damai
surat2 ajakan dakwah dikirim kepada raja2 melalui utusan
Islam tersebar di semenanjung arab dan sekitar
Dan mekkah ditaklukkan 8 tahun kemudian
Tanpa perang dan pertumpahan darah

Islam berjaya
Menguasai dunia

( H5h )

Anakku..
Tahun ke 10 nabimu haji
Bersama 240.000 sahabat bersamanya
Diberinya nama haji itu haji wada ( perpisahan )
Sebuah isyarat akan dekatnya masa kepulangan
Pulang kepada Dia yang darinya nabi diutuskan
Anakku..
Hanya berselang sekitar 3 bulan dari haji, ia jatuh sakit..
mendung bergelanyut di seluruh kota madianah..
Seluruh sahabat berduka.
Dan anakku..
robiul awwal tahun ke 11 dari hijrah, di hari senin kala itu..
Mendung di langit tak mampu mewakili mendung hati mereka
Dan air matapun tumpah ruah membanjiri kota
Nabi Muhammad wafat
meninggalkan sejarah indah manusia tanpa cela, Nabi termulia, Pribadi sempurna
meninggalkan  untuk kita ajarannya
untuk kita pegang dan pertahankan selama hayat di kandung badan

( H5h )

Anakku..
Namun hakikatnya
Nabimu selalu hidup di sana
Menatapmu meski tak kau tahu
Dan menunggu...
Hingga engkau mengulurkan tangan datang padanya
Dan Ia akan menyambut uluranmu dengan penuh suka cita
Anakku..
Bahagiakan Ia di sana dengan ketaatanmu
Dan jangan lukai hatinya dengan durhakamu..
Hidupkan nabi dalam hatimu
Cintai Ia semampumu mencintai seseorang
Dan Ia akan membalas cintamu dengan kasih sayang
Disyafaatinya engkau
dan digandengnya tanganmu masuk surga

 ( H5h )
( jakarta, 27 juni 2010 )

HALIMAH ASSA’DIYAH



HALIMAH ASSA’DIYAH
oleh Syarifah Soraya -Guru Hafalan Quran MTs PKP-

Wanita beruntung yang dipilih Allah untuk mengasuh, menyusui dan membesarkan Nabi Muhammad SAW adalah Halimah. Seorang wanita dari kabilah bani sa’ad yang tak pernah menyangka namanya akan dikenang sepanjang sejarah. Inilah apa yang dituturkannya :
Aku adalah satu dari kebanyakan wanita thoif yang berprofesi sebagai tukang susu, dalam tiap sekian bulan sekali kami akan turun ke mekkah ataupun kota2 lain di sekitar thoif untuk mengambil anak yang dapat kami susui dan mendapat bayaran dari ayah anak tersebut.
Adalah budaya di mekkah pada saat itu menyusukan bayi2 mereka kepada wanita di desa, dan dianggap tinggal di desa untuk anak balita adalah lebih sehat, lebih ceria dan bahasa mereka lebih terjaga.
Seperti bulan itu, saat desa kami sedang dilanda paceklik kekurangan makanan. Susu dari unta kami tidak mencukupi untuk makanan kami sekeluarga, dan keledai yang kami naiki berjalan gontai, kami aku, suamiku dan bayi dalam gendonganku memutuskan mencari tambahan nafkah turun ke mekkah mencari bayi untuk aku susui. Bersama rombongan 70 an perempuan kami menaiki keledai di barisan paling belakang.
Sampai di mekkah sore hari kami memasang tenda, berencana menginap malam itu dan esok harinya lalu kembali ke thoif setelah tentu saja mendapatkan bayi untuk kami susui.
Malam itu kami tidak dapat tidur nyenyak, unta kami susunya tak mencukupi untuk makan malam, aku masih lapar dan air susuku keluar tak seberapa. Anakku menangis hampir sepanjang malam karenanya.
Keesokan paginya aku dan kawan2 perempuanku menuruni perbukitan dan memasuki kota mekkah. Kami bertanya kepada warganya tentang bayi yang dapat kami susui, dan nama pertama yang kami dengar adalah Muhammad cucu Abdul mutholib pemimpin suku quraisy, semua ingin menyusuinya namun tatkala kami dengar ia sudah tak berayah lagi, semua mengurungkan niat, sebab tentu saja kami tidak ingin menyusui tanpa bayaran. Dan jika ayahnya meninggal siapa yang akan membayar upahnya?
Kami berpencar dan di siang hari semua kawanku telah mendapat bayi untuk disusui, tinggal aku yang kembali ke tenda dengan tangan hampa.
Abu Dhuaib suamiku berkata :
“ tak menyenangkan pulang ke thoif tanpa mendapat apa yang kita tuju, pergi dan ambillah bayi Muhammad itu wahai istriku... siapa tahu dia bayi yang membawa berkah “
Aku setuju dengannya.
Sesampai di rumah Aminah, akupun berbicara dengannya tentang tujuanku dan keinginanku menyusui puteranya. Ia berkata :
“ aku sudah tak bersuami lagi, dan tak tahu bagaimana harus membayarmu “
Kukatakan padanya jangan merisaukan itu, dan kusampaikan apa yang disampaikan suamiku kepadanya :
“ jika memang itu tujuanmu, maka silahkan wahai halimah... engkau tak keliru. Anakku memang membawa keberkahan dan tidak pernah menyulitkan, dari sejak kehamilan aku tidak pernah merasakan kesakitan seperti yang dirasakan kebanyakan perempuan. Ambillah dan buat ia selayak anakmu sendiri..”
Aku menuju kamar yang dia tunjukkan, kusibak tirai penutup ruangan, dan disanalah dia berada
Seorang bayi mungil di atas dipan bertutupkan selimut yang membungkus tubuhnya.
Bayi itu menyadari kehadiranku, ia menoleh dan tersenyum. Duhai... tak pernah kutahu bayi berumur tiga hari yang begitu.. dan aku merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Kerinduan.. seolah ia adalah anakku yang telah terpisah dariku dan kembali kutemu. Aku rindu padanya.. sebuah kerinduan yang membuatku tak sabar mendekatinya. Kuraih ia dengan hati-hati, kudekap di dadaku dan aku memeluknya. Lama... kurasakan mataku menghangat dan air mata menetes darinya satu-satu.
Aku menangis rindu..
Kususui bayi muhammad saat itu juga. Dan keajaiban lain terjadi, entah dari mana aku merasa air susuku penuh, hingga bayi Muhammad meminumnya dengan puas. Aku putar tubuh kecilnya untuk berpindah dari kanan ke kiri, ia tidak mau menyusu, kukembalikan ia ke kanan dan dia menyusu kembali. Ia hanya mau menyusu dari yang kanan, Belakangan baru kutahu, ia melakukan itu untuk menyisakan yang kiri untuk saudara sesusunya, anakku yang kini aku tinggalkan di tenda bersama suaamiku.
Nabi Muhammad SAW mengerti berbagi bahkan sejak bayi.
Malam itu keajaiban lain terjadi, untaku mendadak banyak air susunya, mencukupi untuk makan malamku dan suamiku, tak ada lagi tangis bayi ataupun tidur malam dalam kelaparan, kami terlelap nyenyak malam itu..
Esok paginya, kamipun pulang bersama ke thoif, suamiku menggendong anak kami, dan aku menggendong bayi Muhammad. Dan ajaib, keledai kami yang saat datang paling lemah dan berjalan paling belakang, sekarang melewati keledai2 lain hingga berjalan paling depan.
Seorang teman bertanya keheranan :
“ sempat beli keledai baru, halimah....???”
“ tidak, ini keledaiku yang kemarin”
“ tidak mungkin... bukankah yg kemarin jalannya lambat dan paling belakang ??” 
“ Ya, akupun sedang keheranan..”
Jawabku sambil berteriak.. karena keledaiku berjalan semakin kencang meninggalkannya.

Nabimu Muhammad SAW istimewa sejak balita..
Ia tumbuh cepat luar biasa. Ia telah mampu bicara di usia baru beberapa bulan saja, berjalan di usia 6 bulan dan ia telah ikut menggembala kambing bersama saudara2 sesusunya putra2 abu dhuaib di usia satu tahun..
Semua yang disentuhnya menjadi berkah.. kambing gembalaannya pulang gemuk2 meski di musim kemarau, unta yang dinaikinya diperah mengeluarkan banyak air susu hingga bisa diminum sekeluarga, makanan yang disentuhnya selalu dapat mengenyangkan seisi rumah meski tampak sedikit terlihatnya..
Halimah bercerita :
Muhammad tinggal bersama kami sampai selesai penyusuannya, dan kami harus mengembalikan kepada ibu nya meskipun kami sangat ingin dia tetap tinggal bersama kami, maka aku berusaha membujuk ibunya agar mengembalikannya untuk tinggal bersama kami sampai sang ibu pun mengijinkannya.
Hingga pada suatu hari datanglah anakku dengan panik dan berkata
“ ibu ..ayah..susulilah Muhammad dia tadi dihampiri oleh dua orang laki-laki asing berpakaian putih”. Aku dan suamiku segera berlari mancari Muhammad dan kami mendapatinya berwajah pucat dan gemetar, suamiku mendekatinya dan aku segera mendekapnya.
“ apa yang terjadi padamu nak?”
“tadi dua orang laki-laki asing menghampiriku, merebahkanku,membelah dadaku seperti mencari sesuatu yang aku tidak tahu, kemudian merekapun pergi meninggalkanku”.
Kami berdua segera membawanya kembali ke rumah, suamiku berkatra dengan mata berlinang tampak begitu khawatir,
“ aku takut anak ini tertimpa sesuatu yang kita tidak mampu menanggungnya wahai Halimah, sebaiknya kembalikan ia kepada keluarganya, aku rasa mereka lebih mengerti bagaimana menghadapinya”.
 Kami pun membawanya ke Mekkah.
“ apa yang kau takutkan Halimah?, setelah diceritakan padanya peristiwa pembelahan dada Muhammad, apakah kau takut dia akan diganggu syetan?”
Aku pun menggangguk.
Tidak akan...Allah akan slalu menjaganya, syetan tidak bisa mengganggunya, tahu kah engakau ketika aku melahirkan, aku melihat cahaya meneranginya hingga aku melihat kerajaan Romawi dan Persia, ia bahkan dilahirkan da;lam keadaan sujud dan tanggannya menunjuk ke arah langit, ucap Aminah dengan penuh kesungguhan.
Tapi meski begitu tinggalkanlah dia Halimah, semoga engkau di balas segala kebaikan.
Aku dan suamiku pun pulang dengan kesedihan tak terhingga, belum lagi kesedihan anak- anakku.
Halimah mengakhiri kisahnya.
Berpuluh tahun kemudian beberapa bulan setelah Nabi Muhammad SAWtelah hijrah ke madinah, datanglah rombongan dari thaif hijrah ke madinah. Nabi menyambut mereka, dan ketika dilihatnya seorang wanita tua ada diantara mereka, nabi setengah berlari menghampirinya.. seraya berkata :
“ umi, umi.... Ibuku, dia adalah ibuku...”
Halimah assa’diyah datang hijrah setelah keimanannya kepada seorang Nabi yang dulu dari dadanya Ia menyusu..
Nabi pun membentangkan surbannya, dan mempersilahkan sang bunda untuk duduk diatasnya dan begitu memuliakannya.




KISAH SAHABAT ANAS BIN MALIK



KISAH SAHABAT 2
ANAS BIN MALIK
oleh Syarifah Soraya -Guru hafalan Quran MTs PKP-

“ Ada dua hari dalam hidupku yang tak pernah terlupa sepanjang hayat ” kata Anas bin Malik mengawali kisahnya
 “ Dua hari yang selalu kukenang dengan gejolak rasa yang luar biasa, hari yang satu kukenang dengan kebahagiaan tak terkira dan yang kedua dengan kesedihan tak terhingga “ sejenak Anas terdiam, menghembuskan nafasnya perlahan sementara  para tabi’in yang mendengarkan dengan penuh khusyu menanti dengan tak sabar .
“ Hari yang pertama adalah satu hari kala aku berlarian menuju jalanan itu, jalan masuk kota yatsrib. usiaku kala itu sekitar 10 tahun dan aku  bersama berpuluh anak2 sebayaku tanpa menghiraukan keringat yang bercucuran di badan kami dan terik matahari yang menyengat kepala, kami menerobos kumpulan besar itu, kelompok laki-laki dewasa yang berdiri di sepanjang jalan, menantikan kedatangan seseorang... “
“ Memang sejak beberapa hari sebelum hari itu kabar akan kedatangannya kami dengar, hingga kamipun menanti di sepanjang hari dan pulang di sore hari dengan kesedihan karena dia tak kunjung tiba juga dengan harapan esok hari ia akan sungguh2 datang.. “
“ dan inilah harinya. Tampak dari kejauhan dua ekor unta berjalan beriringan. Dan entah mengapa semakin dekat keduanya hatiku semakin gemetar, senyumku semakin lebar, dan mataku nyaris tak kuizinkan berkedip agar tak kehilangan bahkan bayangan untanya sekalipun “
“ itulah dia..... berdampingan dengan sahabatnya Assidik, tersenyum penuh arti kepada kami yang menatapnya penuh rindu.. “
“ itulah dia... yang namanya selalu membasahi bibir ibuku tiap waktu, “ Dia mengajarkan kita berbuat begini, anas.. dia mengajarkan kita meninggalkan ini anas.. “ suara ibuku kala menyebut namanya kembali terngiang di telingaku..”
“ Ya, kawan.. Dia adalah Nabi Muhammad.. “
“ untuk pertama kalinya wajah indahnya kupandang, dan kalian tahu?? Aku dengan pikiran kecilku kala itu seraya memandang wajahnya berfikir, aku dengannya ingin selalu bersama “..
“ dan begitulah... waktupun berlalu, hingga suatu hari ibuku membawaku padanya setelah bertanya padaku dan kujawab dengan iya”
“ wahai Rosulallah.. kulihat semua orang baik laki2 maupun perempuan menghadiahkan sesuatu untukmu Dan akupun ingin melakukannya. Aku ingin memberikan padamu sesuatu yang berharga. Dan karena yang paling berharga dan kucinta yang kumiliki adalah anakku anas maka aku hadiahkan ia padamu, ya Rosulallah..  ajaklah ia pergi perang jika kau mau, atau perintahkan padanya apapun. Ia aku serahkan sepenuhnya untukmu.. “
Dan mulai hari itu, tinggallah aku di rumah Rosulallah SAW, membersihkan rumahnya, mencucikan piringnya, dan melayani kebutuhannya
Dan tahukah kalian, kawan ?
Meski tampaknya aku melayaninya, pada nyatanya dialah yang banyak memberi padaku, dia mengajarkanku semuanya, dia memperlakukanku sebagai anaknya, 10 tahun aku bersamanya dari sejak kedatangannya hingga wafatnya tak sekalipun kudengar dia memarahiku, dan tak sekalipun dia berkata untuk sesuatu yang  aku kerjakan ataupun yang tidak aku kerjakan
“ mengapa engkau melakukannya wahai anas ?? “
Sekali dalam masa baktiku padanya dia menegurku dan itu adalah tatkala dia memintaku untuk menyampaikan sesuatu kepada seorang sahabatnya, dan dia memintaku untuk segera melakukannya. Akupun menyanggupinya, bahkan karena ingin segera menyampaikan hajatnya akupun berlari menuju rumah orang tersebut. Namun kelelahan berlari akupun mulai berjalan dan semakin pelan , hingga aku melihat segerombolan anak2 sebayaku yang tengah bermain. Rasa penasaran membuatku menerobos mereka dan sebuah permainan menarik membuatku ikut bergabung menyaksikannya dan lalu lupalah aku akan perintahnya.. entah telah berapa lama aku berada disana ketika kurasakan tangan seseorang menutup mataku dari belakang, tangan yang begitu kukenal, tangan yang wanginya mengingatkanku pada perintahnya yang aku bengkalaikan. Maka dengan penuh perasaan bersalah akupun menoleh ke belakang, bersiap mendapatkan kemarahan akibat ketelodaran atau setidaknya teguran atas keterlambatan namun lihatlah dia.. senyum di wajahnya mengembang, tak ada kekesalan apalagi kemarahan yang ada hanyalah satu kalimat kecil yang terucap indah dari lisannya
“ ( ainal washi, ya anas.. ainal washi ya anas... )
( mana yang aku perintahkan wahai anas ?... ) maka akupun segera berlari melaksanakan tugasku..
Begitu banyak pelajaran yang telah dia berikan padaku, ilmu, adab, kebijaksanaan, hikmah, pengetahuan, doa, ibadah, kebaikan menjadikanku yang ketiga dari periwayat hadits2nya yang terbanyak sesudah abu hurairoh dan abdullah bin umar, salah satu dari nasihatnya padaku:
“ wahai anakku, jika kau bisa untuk sejak terjaga di pagi hari hingga malam menjelang dan di hatimu tak terdapat kebencian terhadap saudaramu seiman maka lakukanlah... wahai anakku ini adalah sunnahku, dan menghidupkan sunnahku berarti mencintaiku, mencintaiku berarti bersama denganku di surga- Nya.. “
Anas mengakhiri kisah hari pertamanya, dan memulai menceritakan kisah hari keduanya
Dan hari yang kedua adalah hari dimana kami tengah mengerjakan sholat dhuhur berjamaah kala itu, namun mendung menggelayuti kota madinah dan hati2 kami. Karena kami telah beberapa hari ini  tak diimami oleh Rosulallah lagi. Dia yang tengah sakit kala itu mewakilkan pengimaman sholatnya kepada Abu bakar sahabat terdekatnya.. namun tiba2 beliau menyingkap tabir dan masuk ke dalam masjid, membuat kami spontan keluar dari sholat kami dan ingin mendekatinya, Abu bakar memerintahkan kami untuk tetap diam di tempat, Rosulallah lantas maju ke depan mengimami kami sholat dan memerintahkan abu bakar untuk tetap berada di mihrab imam  sejengkal saja di belakangnya, suara takbirnya kala itu sudah sangat lemah dan tak terdengar hingga Abu bakarlah mengulanginya dan memperdengarkn gerakan sholat kepada kami. Dan kami tak pernah menyangka bahwa itu adalah sholat terakhir kami dengannya bahkan pertemuan kami yang terakhir, di akhir siang beliau meninggalkan kami, bertemu dengan Tuhan yang telah mengutusnya.
Tak pernah kulihat banjir airmata lebih banyak dari hari itu, tak pernah kulihat kesuraman lebih mengenaskan dari waktu itu, tak pernah kurasakan kesedihan dan kepedihan lebih nyata daripada hari itu, kami berkabung, kami berduka, kami tak lagi bisa menikmati hidup di dunia, mendung hati kami tak lagi beranjak, menggelayuti sisa hidup kami dan satu2nya hari yang kami nantikan sesudah itu adalah hari pertemuan kami dengannya.. dan aku..  hari yang paling aku nantikan  adalah satu hari nanti dimana aku akan datang padanya seraya berkata :
“ aku adalah pelayan kecilmu anas ya Rosulallah.... “
Dan tangis anaspun meledak... mengakhiri kisahnya kerinduannya kepada nabi Muhammad tak mampu lagi dibendungnya..
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Postingan Populer