Jumat, 03 Maret 2017

Pendidik dan Peserta Didik Berprestasi

Pemilihan pendidik dan peserta didik berprestasi adalah kegiatan rutin yang selalu dihadirkan dalamkegiatan HUT PKP DKI Jakarta. Rangkaian seleksi pendidikberprestasi mencakup tiga tahapan yaitu, tes tertulis, tes wawancara dan praktik mengajar. Sedangkan seleksi peserta didik berprestasi mencakup portofolio, wawancara dan baca-tulis Alquran.
Seleksi Peserta Didik tentang ke-PKP-an
Seleksi Peserta Didik tentang ke-PKP-an
Kegiatan ini diharapkan dapat memacu semangat pendidik dan peserta didikuntuk lebih giat dalam melaksanakan tugas sesuai dengan kewajibannya serta memberikan kesempatan para pendidik dan peserta didikuntuk menyalurkan kemampuan mereka. Kepada para pemenang diberikan uang pembinaan, medali dan piagam penghargaan yang diserahkan bertepatan dengan upacara peringatan HUT ke 38 PKP, Selasa, 8 April 2014. Berikut para pemenangnya. (Annisa)
Praktik Mengajar Menjadi Salah Satu Seleksi yang di berikan kepada pendidik
Praktik Mengajar Menjadi Salah Satu Seleksi yang di berikan kepada pendidik


Pendidik Berprestasi
Nama PesertaUnit KerjaNilai Skor AkhirPeringkat
 1Tuti Alawiyah, S.Ag.
MTs
77,87
Peringkat I
 2Urip Widodo, S.Pd.
SMA
76,06
Peringkat II
 3Aryannaraswari
TK
75,93
Peringkat III
 4Dessy Fourmisari, S.Pd.
SMA
75,78
Harapan I
 5Siswanto, S.Si.
SMA
73,11
Harapan II

Dr. (HC). A.M. Fatwa  memberikan piagam penghargaan kepada Juara I Pendidik Berprestasi
Dr. (HC). A.M. Fatwa memberikan piagam penghargaan kepada Juara I Pendidik Berprestasi
Peserta Didik Berprestasi
Nama Peserta DidikAsal SekolahNilai Skor AkhirPeringkat
 Sylvia Bonetha
SMA
78,89
Peringkat I





 Syalbiah Ophi Narista
MTs
73,60


H.R. Museno mengalungkan medali kepada Juara III peserta didik berprestasi
H.R. Museno mengalungkan medali kepada Juara III peserta didik berprestasi

Pendidik/ Tenaga Kependidikan Bermasa Bakti 20 dan 30 Tahun
Dalam rangkaian HUT PKP, diadakan pula pemberian pengharagaan kepada pendidik/tenaga kependidikan yang mengabdi di Kampus PKP DKI Jakarta dengan masa bakti 20 dan 30 tahun tanpa henti. Ada sebanyak 11 orang yang berhak mendapatkannya. Mereka adalah sebagai berikut :
NoNamaJabatanStatus
Karyawan
Masa KerjaUnit Kerja
 1Dra. Ani Masruroh
Guru Kelas
Tetap
20 Tahun
MI
 2
Soekarno
Kepala TU
Tetap
20 Tahun
MI
 3Amin Ustadzi, S.Ag.
Kepala Madrasah
Tetap
20 Tahun
MTS
 4Sukarno, A.Md.
Guru
Tetap
20 Tahun
MTS
 5Eko Muchdianto, A.Md.
Guru
Tetap
20 Tahun
MTS
 6Euis Srihayati, S.Pd. I
Guru
Tetap
20 Tahun
MTS
 7Drs. Murodi
Guru
Tetap
20 Tahun
MTS
 8Yayan Mulia
Keamanan
Tetap
20 Tahun
SMA
 9Drs. Ladiyo
Guru
Tetap
20 Tahun
SMK 2
 10Ahmad Mustakim
Staf. Sekretariat
Tetap
20 Tahun
Sekretariat
Baca Tulis Al-Quran salah satu pesyaratan seleksi peserta didik berprestasi
Baca Tulis Al-Quran salah satu pesyaratan seleksi peserta didik berprestasi
Sebagai tanda penghargaan, maka pendidik/tenaga kependidikan yang telah memiliki masa bakti 20 dan 30 tahun tersebut memperoleh medali dan piagam penghargaan serta uang motivasi yang akan diberikan bertepatan upacara peringatan HUT Kampus PKP Jakarta Islamic School.

GURU, PROFESI MULIA

Oleh: Tongato
 
Guru merupakan profesi mulia. Orang yang telah menetapkan diri
menjadi guru berarti telah mengambil jalan mulia. Mulia ikhlas mendampingi murid-muridnya. Mulia dalam mengantarkan pemilik masa depan bangsa menjadi orang yang siap menghela masa depannya.


Atjih, S.Pd dalam kegiatan micro teaching 2014


Dalam proses mendampingi murid, peran guru tidak tergantikan. Meskipun perkembangan teknologi telah mempermudah segala hal, namun kehadiran guru tetaplah mendapatkan peran yang utama dalam pendidikan. Meskipun kini bukan satu-satunya sumber belajar, guru tetaplah pemegang kendali dalam proses pembelajaran. Ini bukan saja karena pendidikan berperan memanusiakan manusia yang berarti tidak bisa tergantikan oleh mesin. Tetapi juga anak didik perlu pendampingan dalam menggali potensinya sehingga menjadi aktual.
Dalam berbagai penelitian, baik yang korelasional maupun pengaruh terdapat adanya signifikansi peran guru dalam meningkatkan prestasi muridnya. Adanya guru yang kompeten akan membuat kompetensi anak didik meningkat. Demikian pula strategi dan metode guru dalam pembelajaran yang tepat akan meningkatkan kualitas anak didiknya.
Dalam buku klasik yang disyarahkan oleh Syeikh Ibrahim ibn Ismail berjudul Ta'limul Muta'alim Toriqot al Tangalum dikemukakan bagaimana interaksi guru murid semestinya agar proses dan hasil pembelajaran berhasil sukses. Pesantren-pesantren di Jawa menggunakan buku ini sebagai referensinya sudah sejak lama. Paling tidak ada tiga hal penting dalam hubungan guru-murid:
Pertama ada niat. Niat merupakan pokok segala hal. Segala sesuatu berawal dari niat. Niat yang baik akan menghasilkan hal yang baik pula. Guru berniat anak didiknya mampu menjadi pembelajar. Mengerti bagaimana caranya belajar. Anak didik mau dan berusha untuk menjadi pembelajar sejati. Bersedia bertekun diri dalam menggapai ilmu yang dipilihnya. Niat guru dan anak didik bertemu saling menguatkan dan memberdayakan.
Kedua, kesungguhan dan konsistensi. Segala sesuatu bila tidak sungguh sungguh maka tidak akan melahirkan apa pun. Guru bersungguh sungguh dalam mendidik dan mengajar dan anak didik tak kalah bersemanganya dalam belajar. Maka bertemulah kesungguhan gur dan anak didik sehingga menjadikan sinergi yang menumbuhkan dan mengembangkan. Sungguh saja belum cukup perlu adanya konsistensi. Jika suatu kali sungguh sungguh lain kali tida sungguh sungguh maka tidakbakan membuahkan hasil yang memaksimalkan.
Ketiga, mencintai ilmu dan orang orang yang menguasai ilmu. Indikator cinta ilmu adalah apa yang telah dipahami dari proses pembelajaran, membaca atau berdiskusi segera dicatat. Mencatat adalah cara mengikat ilmu yang telah dikuasai. Kalau binatang buruan yang sudah tertangkap, binatang itu segera diikat dengan tali agar tidak lepas. Apa sudah cukup ilmu yang sudah dipahami hanya sekedar diikat? Tentu tidak. Ilmu yang sudah dikuasai harus segera dikembangkannya. Ilmu hanya bisa berkembang bila disampaikan, dikomunikasikan ataupun diajarkan kepada orang lain. Dengan mengkomunikasikan ataupun mengajarkannya, ilmu kita tidak berkurang. Bahkan malah tumbuh dan berkembang. Ketika ilmu tidak dikomunikasikan, ilmu itu akan beku, layu untuk kemudian mati.
Lalu apa indikator menghormati org2 yang berilmu? Yakni antaranya adalah guru. Ketika kita menghormati orang berilmu, kita rindu, kita ingin selalu dekat dengannya. Senang berlama-lama berbicara dengannya. Tugas seorang guru seperti dokter. Ada kesamaan dalam menjalani dan dampak hasilnya. Dokter pertama-tama ketika berhadapan dengan pasiennya adalah menanganinya dengan baik. Berusaha dengan segala ilmu yang dikuasainya untuk menyembuhkan. Dan akan gembira dan bahagia manakala pasien sembuh dari penyakitnya.
Demikian juga seorang guru, anak didiknya yang memahami ilmu yang diajarkan akan senang. Anak didiknya yg sukses jg akn menggembirakan sekaligus membahagiakan gurunya. Tidak ada iri apalagi dengki bila anak didiknya sukses. Sebaliknya akn gembira dan bahagia. Inilah hakikat dasar tugas guru. Memberdayakan untuk kemudian membahagiakan. Pertama tama membahagiakan ank ddknya utk kemudian membahagiakan driya. Namun selalu iklas dgn kebahagiaan anak didiknya.**

GURU ITU EGOIS

Oleh: Tongato

Anatta Sannai, M.Pd dan siswa MTs PKP angkatan 2015

Ada orang tua yang setengah protes ketika ada guru yang menuntut muridnya sempurna dalam mengerjakan soal mata pelajaran yang diampunya. Padahal sebagai guru mata pelajaran tertentu pasti dirinya tidak menguasai seluruh mata pelajaran yang ada. Apalagi untuk tingkat SLTA, yang saat ini mata pelajaran yang ada mencapai sekitar 16 mata pelajaran. Bila guru mata pelajaran diuji dengan mata pelajaran yang bukan diampunya, dapat dipastikan perolehan nilainya tidak sesempurna mata pelajaran yang diampunya. Bahkan mungkin juga nilai ujian mata pelajaran yang diampunya bisa lebih rendah dari nilai muridnya. Ini terbukti ketika guru mengikuti Ujian Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015, rerata nilai secara nasional hanya berkisar 5.48.(? cek lg).
Ya, guru itu memang egois. Menuntut nilai muridnya tinggi, tapi dirinya tidak dapat mencapainya. Memaksakan agar nilai para muridnya tinggi untuk mata pelajaran yang diampunya, namun tidak bisa memaksakan dirinya menguasai semua mata pelajaran. Dan semua guru menuntut hal yang sama. Padahal murid memiliki kecerdasan yang berbeda. Ada yang cerdas bahasa, belum tentu cerdas bidang sosial, eksakta maupun seni. Ada yang cerdas seni, namun biasa-biasa saja di bidang eksakta atapun bahasa. Ada memang murid yang multi cerdas, dikaruniai beragam kecerdasan. Namun, jumlah mereka tidaklah banyak. Kalau dihitung barangkali tidak mencapai 10 persen dari murid yang ada.
Ya, memang guru itu egois. Sebagai orang yang telah menjadi guru lebih dari 20 tahun, terasa bahwa sikap egois itu penting dalam menjalani profesi keguruan, bahkan tampaknya harus berani menyatakan bahwa saya harus egois sebagai guru. Tentu dengan catatan egois dalam melihat dan untuk kemudian mengembangkan potensi yang dimiliki para muridnya. Sebagai guru, tidak bisa membayangkan manakala ada guru yang tidak menuntut muridnya mengembangkan potensi secara maksimal. Ada perasaan bersalah bila hal itu tidak dilakukannya.
Apa protes orang tua berdasar? Tentu ada logikanya. Sebab, memang betul ada anak yang hanya memiliki kecerdasan mata pelajaran tertentu. Sedangkan mata pelajaran lainnya biasa-biasa saja kemampuannya. Dan bila dituntut maka hal itu adalah paksaan yang mestinya kurang baik. Lalu apa logika para guru? Sekolah sebagai rekayasa sosial yang bersifat klasikal dimaksudkan untuk mengembangkan potensi para muridnya agar aktual. Dalam proses pencarian, tentu setiap guru menuntutnya agar setiap jengkal potensinya dapat berkembang dan kemudian tumbuh menjadi kemampuan yang aktual.
Di sisi lain, dalam kehidupan bermasyarakat dibutuhkan berbagai kemampuan dalam berinteraksi, baik yang menyangkut diri dengan dirinya maupun dalam kaitannya relasi dengan orang lain. Kemampuan ini tentu mesti diasah dengan baik. Adanya tuntutan guru adalah dalam rangka ini dan juga memaksimalkan semua potensi muridnya. Tidaklah elok manakala ada kesenjangan kemampuan dalam diri murid. Artinya, jangan sampai murid nantinya hanya memiliki kemampuan yang tinggi dalam berhitung, namun lembek dalam berbahasa ataupun sebaliknya. Dan ini semua, kemampuan-kemampuan yang dibutuhkan, ada dalam setiap mata pelajaran.
Jadi, saya sebagai guru memang harus egois. Karena saya mencintai para murid saya. Saya akan sedih bila mereka memiliki potensi, namun alpa tidak diasahnya. Sebagai guru, saya tidak rela manakala potensi mereka tidak menjadi aktual. Mereka sudah semestinya mendapatkan layanan pengembangan potensi diri secara keseluruhan. Dan bagi yang memang hanya memiliki kecerdasan mata pelajaran tertentu, tidaklah masalah. Asalkan potensi yang ada berkembang secara maksimal. Para guru tentu telah mahfum tentang hal ini. Dan, mereka toh tidak menuntut semua muridnya dapat nilai seratus dalam semua mata pelajaran. Cukuplah potensi mereka terfasilitasi secara optimal.***


Postingan Populer