Jumat, 30 November 2018

MEMBANGUN PERADABAN


MEMBANGUN PERADABAN
Oleh : Dr.H.Zuhdi Zini
Ta'lim Bulanan Masjid Baitushshidqi PKP JIS

Rosulullah saw bersabda artinya: “Tuhanku telah mengajarkan adab kepadaku, maka ia menjadikan adabku  menjadi baik “ (HR. Ibnu Hibban).
Ulama berbeda pendapat tentang kualitas hadits ini ditinjau dari segi sanad, namun mereka sepakat secara matan (redaksi hadits ) bahwa hadits ini baik dan mendidik. Para pakar bahasa memberikan makna yang beragam tentang arti adab. Sebagian menerjemahkan adab adalah pendidikan, hingga hadits itu bermakna, Tuhanku telah mendidik aku, hingga baiklah pendidikanku. Sebagian lagi menerjemahkan kata adab dengan akhlak mulia, perangai yang baik, sopan santun dan sebagainya. Dalam makna ini haidits itu berarti Tuhanku telah mengajarkan aku akhlak yang mulia, hingga mulia akhlakku, dan sebagian lagi menerjemahkan kata adab dengan peradaban, hingga hadits itu dimaknai , Tuhanku telah mengajarkan aku peradaban yang baik, hingga baiklah peradabanku.
Dengan memahami ketiga makna itu, dapat dipahami bahwa etika yang baik akan lahir dari pendidikan yang baik dan peradaban yang baik terlahir dari pendidikan dan akhlak yang baik. Setiap manusia mempunyai dua tugas utama yang mulia.
1.      Sebagai khalifah di Muka Buimi
Sebagai khalifah manusia bertugas untuk membangun peradaban dirinya karena peradaban manusia adalah cermin dari karakter manusia itu sendiri. Allah Swt berfirman dalam QS.Al Baqoroh /2:30 artinya “ … Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi, mereka berkata mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Tuhan berfirman , sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.”
2.       Sebagai Pengabdi Allah atau Abdullah
Manusia yang  sanggup menjadi hamba Allah akan mampu berkreasi sebagaimana Allah berkreasi, hingga Rasulullah  saw mengajarkan, berakhlaklah kalian sebagaimana akhlak Allah. Seseorang yang mengabdi kepada Allah mempunyai tiga tingkatan; pertama , sebagai budak Tuhan . Pengabdian yang dilakukannya karena takut akan kekuasaan Tuhan, baik berupa siksa atau neraka. Kedua, sebagai pedagang , pengabdiannya kepada Tuhan karena ada keuntungan yang diperolehnya, baik keuntungan materi atau keuntungan immateri kelak yakni pahala dan surga, dan ketiga, sebagai kekasih Allah, pengabdian kepada Allah semata-mata karena ingin memperoleh cinta Allah, karena mereka yakin cinta Allah kepada hamba-Nya  melebihi dari segalanya.
Dengan dua fungsi yang dibangun secara seimbang maka manusia akan menjadi khalifah yang memiliki peradaban yang tinggi karena semua kreasinya merupakan personifikan Tuhan yang termanifestasi dalam setiap karya yang dihasilkannya. Untuk membangun peradaban yang tinggi tidak mungkin dilakukan oleh satu generasi, tetapi harus ada usaha yang berkesinambungan dari generasi ke generasi berikutnya. Rasulullah berpesan .. “didiklah anak-anakmu dalam tiga hal, mencintai Nabimu, mencintai keluarga Nabi dan membaca Alquran.” Maka sesungguhnya orang yang membaca Alquran berada dalam naungan – Nya, bersama para Nabi dan orang-orang suci. Untuk menjaga peradaban mulia adalah dengan”membangun cinta dan mengamalkan Alquran”. Cinta yang baik adalah apabila yang dicintai  itu yang terbaik. Manusia mulia yang wajib dicintai agar  terbangun peradaban tinggi dan mulia adalah Nabi Muhammad saw dan keluarganya. Dengan mencintai mereka akan lahir cinta sejati kepada sesama karena hanya dengan cinta, cinta itu akan terwujud. Allah telah menjamin Nabi Muhammad saw dan keluarganya sebagai manusia suci yang dapat dicintai dan diteladani. Allah berfirman….”Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih – bersihnya.” ( QS Al Ahzab/33:33 ).
Pondasi utama membangun peradaban adalah dengan mencintai Rasulullah saw dan keluarganya. Kebencian kepada Rasulullah saw dan keluarganya dan kepada orang-orang yang mencinta mereka akan melahirkan peradaban yang merusak , kejam dan sadis. Cinta hanya dapat terwujud kokoh dengan cinta itu sendiri.
Pondasi kedua untuk membangun peradaban yang tinggi adalah dengan mempelajari, memahami dan mengamalkan Alquran. Karena Alquran adalah cermin dari sebuah peradaban yang tinggi. Saat Sayyidah Aisyah, ummul Mukminin ditanya tentang akhlak Rasulullah saw, beliau menjawab, akhlak Rasulullah adalah Alquran. Pendek kata , Rasulullah saw adalah Alquran berjalan dan itulah peradaban tertinggi di dunia ini. Peradaban harus selalu  dijaga  dan dipelihara dengan cara melakukan transpormasi ilmiah kepada anak-anak sebagai pewaris sebuah peradaban. Rasulullah saw bersabda , …. “Didiklah anak-anakmu dengan pendidikan yang baik.”
Dengan demikian peradaban yang tinggi bukan hanya kenangan masa lalu dan bukan pula mimpi di masa depan. Peradaban adalah akulturasi kerja keras yang dilandasi oleh cinta dan kasih sayang. Peradaban sesungguhnya adalah cerminan dari asma Allah yang Maha Tinggi. Wallahu a’lam.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar